Dua Rembulan di Atas Bago: Ketika Waktu Retak di Tanah Hortikultura Tulungagung

Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung — wilayah kecil seluas 1,54 km² dengan 9.376 jiwa penduduk — dikenal tenang, subur, dan religius. Di siang hari, aroma tanah basah dan daun pisang berpadu dengan suara ayam, kambing, dan sapi yang diternak warga. Data resmi kelurahan mencatat sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada pertanian hortikultura: mangga, pisang, pepaya, padi, dan sedikit jagung.

Namun di antara pohon-pohon mangga tua yang berjejer di tepi jalan gang RT 03, sebuah peristiwa aneh terjadi pada malam Jumat Kliwon bulan Suro, tahun 2025 — malam yang kemudian disebut warga sebagai “malam dua rembulan.”

Malam itu, Ardi, pemuda petani berusia 27 tahun, sedang pulang dari kebun mangganya di utara Bago. Ia memeriksa hasil buah yang mulai bersemi tak biasa—terlalu cepat dari musimnya. Menurut catatan BMKG Tulungagung, April 2025 memang ditandai cuaca ekstrem: suhu malam lebih tinggi dari rata-rata, 29°C dengan kelembapan mencapai 91%. Udara lembab itu membuat cahaya lampu jalan memantul aneh di kabut tipis yang menyelimuti pemukiman.

Sekitar pukul 23.47 WIB, listrik di sebagian wilayah Bago padam — padahal PLN memastikan tidak ada pemadaman terjadwal. Dalam gelap yang sunyi itu, Ardi mendongak. Langit seperti terbelah: dua rembulan tergantung berdampingan, satu berwarna merah darah, satu putih kebiruan. Cahaya keduanya memantul di daun mangga, menimbulkan pantulan hijau yang berdenyut seperti nadi.

Saat itulah, Ardi menatap pohon Mangga Tua Bago, pohon besar berusia lebih dari seratus tahun yang menjadi penanda batas wilayah kampung. Ia mendekat, menyentuh kulit batang yang dingin, dan tubuhnya seakan tersedot ke dalam gema masa lalu. Ia melihat kilasan ladang tua dengan petani berpakaian lusuh zaman kolonial. Di bawah pohon itu, beberapa orang menggali tanah dan menemukan batu berwarna hijau menyala. Langit di atas mereka membentuk pusaran cahaya merah. Lalu semuanya lenyap, meninggalkan suara berat yang berkata lirih di telinganya:
“Jaga tanah ini, karena waktu di sini tak lagi tunggal.”

Keesokan harinya, suasana kelurahan tegang. Warga mengeluh ayam dan itik mereka diam serentak tengah malam, kambing beberapa kali mengamuk tanpa sebab. Kantor kelurahan menerima laporan bahwa tanah di sekitar kebun Mangga Tua retak halus memanjang lima meter — tak ada hujan atau getaran gempa, namun sensor seismik Tulungagung mencatat fluktuasi gelombang elektromagnetik ringan (sekitar 2,6 miligauss) pada jam yang sama.
Berita itu hanya sempat tersebar di grup WhatsApp warga sebelum dihapus—katanya demi menghindari “kegaduhan yang tidak perlu.”

Bago sebenarnya memiliki sejarah panjang. Dalam arsip eks-Kawedanan Toeloengagoeng, wilayah ini dahulu menjadi titik pusat pengairan sawah dan tempat singgah para pedagang lintas desa. Banyak petak tanah yang dulunya digunakan untuk ritual bersih desa dan persembahan panen. Tradisi itu kini nyaris hilang, berganti dengan acara tahunan modern dan lomba lingkungan bersih. Namun di beberapa rumah tua, warga lanjut usia masih menyimpan keyakinan bahwa tanah Bago “bernapas”—memiliki kesadaran sendiri.

Ardi, sejak malam itu, sering melihat pantulan cahaya hijau di dahan pohon mangganya. Setiap kali ia menatap lebih lama, suara samar terdengar dari dalam batang pohon, seperti napas panjang seseorang yang berusaha berbicara dari balik kabut waktu. Ia mencatat semua dalam buku harian: suhu udara, waktu kemunculan cahaya, getaran di tanah. Hasilnya selalu sama—setiap malam Jumat, cahaya muncul pada jam yang mendekati 00.00, lalu hilang perlahan menjelang azan Subuh.

Namun misteri itu membawa perubahan nyata. Dalam laporan pertanian Kelurahan Bago awal Agustus 2025, pohon-pohon mangga di wilayah utara menunjukkan peningkatan produktivitas hampir 18% dari tahun sebelumnya, meski curah hujan rendah. Para petani menyebutnya “berkah bumi Bago.” Tapi bersamaan dengan itu, tiga kambing hilang tanpa jejak di sekitar lokasi Mangga Tua. Polisi sempat memeriksa, namun tak ditemukan tanda pencurian—tak ada bekas kaki manusia maupun hewan besar.

Ketika dua rembulan itu muncul kembali pada pertengahan Oktober 2025 — hanya beberapa warga yang melihatnya, dan sebagian menolak mengakui. Namun malam itu, seluruh sensor lampu jalan otomatis di Bago padam selama 7 menit, dan PLN Tulungagung kembali melaporkan anomali tegangan pada jaringan barat kota.

Ardi, kini dianggap “penjaga pohon,” tidak takut lagi. Ia percaya bahwa Bago memang berdiri di atas persimpangan waktu—di mana masa lalu dan masa depan saling menyentuh sesaat, lalu terpisah lagi. Baginya, cahaya hijau itu bukan kutukan, tapi pesan: bahwa bumi, air, dan tanaman menyimpan ingatan panjang tentang manusia yang sering lupa berterima kasih pada alam.

Di fajar hari setelah kemunculan dua rembulan itu, langit Bago tampak biasa saja. Anak-anak berangkat sekolah, ibu-ibu ke pasar, dan suara ayam kembali riuh. Namun jika seseorang berdiri cukup lama di bawah Mangga Tua Bago, ia mungkin masih mendengar dengung halus dari dalam tanah — suara waktu yang belum sepenuhnya berhenti.

Karena di Bago, Tulungagung, tahun 2025 bukan sekadar angka. Ia adalah penanda — bahwa di tanah seluas 1,54 kilometer persegi ini, alam masih berbicara dengan caranya sendiri, menembus batas logika dan menegaskan satu hal:
bahwa waktu bisa retak, dan manusia hanya penumpang di atas denyut bumi yang hidup.

Komentar